Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

Ahlan wa sahlan. Selamat berkunjung di blog kami !!!
Anda punya masalah dengan gangguan hama dan penyakit tanaman ?
Silakan tulis pertanyaan atau masalah pada ruang komentar !!!

Sabtu, 12 Desember 2009

Tahun 2012 Industri Pupuk Diambang Kolaps

Industri Pupuk Diambang Kolaps: Ketersediaan bahan baku gas pada 2012 menjadi kendala. Itulah judul yang terpampang pada halaman 2 Harian REPUBLIKA hari ini, Sabtu 12 Desember 2009. Pasalnya, 20 pabrik pupuk yang beroperasi tersebut belum memiliki alternatif bahan baku gas. Padahal, kontrak pengadaan gas antara pihak terkait pengadaan dan pabrik pupuk, mayoritas akan berakhir pada 2012. Demikian menurut Republika.

Nah...kalau hal itu benar-benar terjadi, bagaimana nasib para petani kita yang saat ini masih sangat tinggi tingkat ketergantungannya kepada pupuk buatan ini..?

Sejak tahun 1980-an, sebenarnya pihak swasta sudah menawarkan alternatif jalan keluarnya dengan memperkenalkan produk-produk pupuk alami (pupuk organik) kepada para petani. Namun kurang diminati oleh para petani, antara lain karena harganya masih relatif lebih mahal dibandingkan harga pupuk buatan yang memang disubsidi pemerintah. Sehingga petani enggan untuk meninggalkan ketergantungan pemakaian pupuk an organik (pupuk buatan) bersubsidi tersebut.

Tentunya...ini menjadi PR pemerintah sekarang, khususnya Menteri Pertanian yang baru, yang harus segera mendapat perhatian serius dan berpihak kepada petani. Semoga !

Sabtu, 07 November 2009

Pestisida adalah Racun, Bukan Obat

Pestisida berasal dari bahasa Inggris Pest yang artinya hama dan cide artinya membunuh. Dengan demikian pestisida dapat diartikan sebagai senyawa kimia baik organik maupun an organik yang digunakan untuk membunuh hama.

Dari definisi di atas, dapat diketahui bahwa pestisida adalah racun, bukan obat. Namun kenyataan di masyarakat, khususnya di kalangan petani kita lebih akrab dengan menyebutnya sebagi obat: Obat wererng, obat ulat dan lain-lain. Jelas ini salah kaprah.

Kesalah kaprahan ini sepintas seperti tidak berpengaruh apa-apa. Namun dari kesalahan persepsi ini sering terjadi kasus yang berbahaya di masyarakat, seperti kasus petani yang keracunan pestisida setelah melakukan penyemprotan sebagai akibat menganggapnya obat atau bukan racun sehingga tidak mengikuti prosedur keamanan dalam penggunaan pestisida.

Di daerah Subang, Jawa Barat (dikampung penulis) pernah terjadi seorang kakek bersama dua orang cucunya meninggal dunia karena menyantap kue (papais) yang terbuat dari sejenis insektisida berbentuk tepung, karena dikira tepung beras. Ini terjadi karena menganggap bukan racun sehingga menyimpannya ditempat sembarang.

Kasus lain di salah satu desa di Karawang, seorang nenek yang sedang sakit harus meninggal dunia karena meminum "obat tikus" yang belum lama dibeli oleh suaminya. Ketika itu si nenek bertanya kepada suaminya: "Tadi kemana saja...nenek cari kok nggak ada?". "Habis beli obat", jawab si kakek. Disangka si nenek, suaminya itu membeli obat untuknya, oleh karena itu ketika suaminya pergi ke sawah, si nenekpun mengambil dan meminumnya.

Kejadian lain pada tahun 70-an, ketika masih beredar insektisida bernama "endrin". Seorang petani yang mengidap penyakit "kremi" (terasa gatal di daerah dubur, akibat cacing kremi yang sedang masa bertelur) mengolesi duburnya itu dengan endrin dengan harapan cacing kreminya mati. Tetapi karena racun endrin itu cukup keras dan mungkin dosisnya terlalu tinggi, akhirnya bukan hanya cacing kreminya yang mati...petani itupun ikut meninggal dunia.

Dan...mungkin banyak terjadi kasus serupa di daerah lain. Oleh karena itu, hilangkan kebiasaan menyebut pestisida sebagai obat, tetapi katakan pestisida adalah...racun.

Rabu, 21 Oktober 2009

Pengendalian Lalat Buah

Lalat Buah (Bactrocera sp.)

Ordo : Diptera Famili : Tephritidae

Lalat buah (Bactrocera spp.) merupakan salah satu hama yang banyak menimbulkan kerugian pada tanaman hortikultura, baik yang dibudidayakan secara luas maupun tanaman pekarangan seperti mangga, belimbing, jambu, nangka, semangka, melon, pare, cabai, dll. Akibat serangan hama ini produksi dan mutu buah menjadi rendah, bahkan tidak jarang mengakibatkan gagal panen, karena buah berjatuhan sebelum masak atau buah menjadi rusak saat dipanen sehingga tidak layak jual atau tidak layak konsumsi.

Gejala

Pada buah yang terserang biasanya terdapat lubang kecil di bagian tengah kulitnya. Serangan lalat buah ditemukan terutama pada buah yang hampir masak. Gejala awal ditandai dengan noda/titik bekas tusukan ovipositor (alat peletak telur) lalat betina saat meletakkan telur ke dalam buah. Selanjutnya karena aktivitas hama di dalam buah, noda tersebut berkembang menjadi meluas. Larva makan daging buah sehingga menyebabkan buah busuk sebelum masak. Apabila dibelah pada daging buah terdapat belatung-belatung kecil dengan ukuran antara 4-10 mm yang biasanya meloncat apabila tersentuh. Kerugian yang disebabkan oleh hama ini mencapai 30-60%. Kerusakan yang ditimbulkan oleh larvanya akan menyebabkan gugurnya buah sebelum mencapai kematangan yang diinginkan.

Pengendalian

Fase kritis tanaman dan saat pemantauan populasi adalah saat buah menjelang masak. Lalat buah dapat dikendalikan dengan berbagai cara mulai dari biologi, mekanis, kultur teknis dan kimia. Di alam lalat buah mempunyai musuh alami berupa parasitoid dari genus Biosteres dan Opius dan beberapa predator seperti semut, sayap jala (Chrysopidae va. (ordo Neuroptera)), kepik Pentatomide (ordo Hemiptera) dan beberapa kumbang tanah (ordo Coleoptera). Peran musuh alami belum banyak dimanfaatkan mengingat populasinya yang rendah dan banyaknya petani yang mengendalikan hama menggunakan insektisida. Parasitoid dan predator ini lebih rentan terhadap insektisida daripada hama yang diserangnya.

Cara mekanis:

1. Pengumpulan dan pemungutan sisa buah yang tidak dipanen terutama buah sotiran untuk menghindarkan hama tersebut menjadi inang potensial, akan menjadi sumber serangan berikutnya. Pengendalian mekanis juga dapat dilakukan dengan mengumpulkan buah yang busuk atau sudah terserang kemudian dibenamkan kedalam tanah atau dibakar.

2. Pembungkusan buah mulai umur 1,5 bulan untuk mencegah peletakan telur (oviposisi), merupakan cara mekanik yang paling baik untuk diterapkan sebagai antisipasi terhadap serangan lalat buah.

Bahan pembungkus

Petani biasanya menggunakan kertas, kertas karbon, plastik hitam, daun pisang, daun jati, atau kain untuk membungkus buah yang tidak terlalu besar seperti belimbing dan jambu. Untuk buah yang berukuran besar, seperti nangka, petani biasa menggunakan anyaman daun kelapa, karung plastik, atau kertas semen. Setiap jenis pembungkus memiliki kelebihan dan kekurangan.

Syarat bahan pembungkus

Apa pun bahan pembungkus yang digunakan harus memenuhi persyaratan: bahan tidak mudah rusak, bahan berwarna gelap, dan bahan membantu menjaga kelembaban dalam bungkusan.

Waktu pembungkusan

Kapan buah harus dibungkus tergantung dari jenis buahnya. Misalnya, buah belimbing harus sedini mungkin dibungkus. Buah mangga dibungkus sebelum buah memasuki stadium pemasakan. Lalat buah tertarik pada warna kuning dan aroma buah masak atau aroma amonia yang dikeluarkan oleh beberapa jenis bunga dan buah, jadi membungkus buah sedini mungkin bisa efektif mengurangi serangan lalat buah.

3. Pengasapan.

Upaya membungkus buah untuk menghindari serangan lalat buah akan semakin efektif jika dibarengi dengan pengasapan. Tujuan pengasapan adalah mengusir lalat buah dari kebun. Pengasapan dilakukan dengan membakar serasah atau jerami sampai menjadi bara yang cukup besar. Kemudian bara dimatikan dan di atas bara ditaruh dahan kayu yang masih lembab. Pengasapan di sekitar pohon dapat mengusi lalat buah dan efektif selama tiga hari. Pengasapan selama 13 jam bisa membunuh lalat buah yang tidak sempat menghindar

4. Kotak perangkap yang di dalamnya diletakkan bahan pemikat lalat buah, antara lain menggunakan daun Selasih (Ocimum sp.) yang banyak tumbuh di ladang atau di tempat terbuka lainnya. Tanaman selasih mengandung minyak asiri, saponin, flavanoid, tanin, dan senyawa geranoil, methyl eugenol (ME), linalol serta senyawa lain yang bersifat menguap. Minyak selasih dilaporkan mengandung ME > 65 %.

Cara penggunaan

Untuk menarik/mengendalikan lalat buah, selasih dapat dimanfaatkan secara langsung atau disuling dulu untuk mendapatkan minyaknya.

Penggunaan secara langsung caranya : 1) daun selasih 10 – 20 helai dibungkus dengan kain strimin, kemudian diremas-remas, lalu masukkan ke dalam perangkap; 2) daun selasih dicincang dengan pisau 2 – 3 cm, selanjutnya dibungkus kain strimin dan dimasukkan pada alat perangkap.

Pengendalian secara kultur teknis dapat dilakukan dengan pengolahan tanah (membalik tanah) di bawah pohon/tajuk tanaman dengan tujuan agar pupa terangkat ke permukaan tanah sehingga terkena sinar matahari dan akhirnya mati.

***(Dari berbagai sumber)

Rabu, 14 Oktober 2009

Apa itu Hama ?

Hama adalah organisme yang berbentuk hewan yang mengganggu atau merusak tanaman, hewan atau benda yang kita miliki secara ekonomis.

Dari definisi ini dikenal:
  • Hama Tanaman, yaitu hama yang mengganggu atau merusak tanaman.
  • Hama Gudang, yaitu hama yang mengganggu atau merusak di dalam gudang penyimpanan
  • Hama Bangunan, yaitu hama yang merusak bangunan, seperti rayap
Organisme hama dapat berupa:
  1. Serangga, seperti ulat, kumbang, kepik, wereng, dan lain-lain
  2. Mamalia, seperti gajah, babi hutan, tikus dan lain-lain
  3. Burung, seperti burung pipit, bondol, manyar dan lain-lain
Sebagian besar hama adalah serangga, karena:
  1. Spesiesnya paling banyak
  2. Keragaman makanan dan ruang lingkupnya tersebar luas
  3. Daya berkembang biaknya besar (seekor induk dapat melahirkan keturunan puluhan sampai ribuan anak)
  4. Siklus hidupnya pendek (hanya beberapa hari sampai beberapa bulan saja)
Suatu organisme dikatakan hama apabila kerusakan yang ditimbulkannya sudah melewati ambang ekonomis (telah merusak secara ekonomis).

Jumat, 09 Oktober 2009

Hama dan Penyakit Tanaman Mangga

Tanaman mangga (Mangifera Indica L.) sebenarnya adalah tanaman asli negeri India, namun kini sudah menjadi tanaman yang tidak asing bagi masyarakat kita. Hampir di setiap daerah di Indonesia terdapat tanaman mangga, walaupun umumnya hanya berupa tanaman pekarangan rumah atau sebagai pelindung maupun sebagai tanaman sela di kebun-kebun warga, tetapi beberapa daerah seperti Indramayu, Cirebon dan Probolinggo dikenal sebagai sentra produksi mangga di Pulau Jawa.

Mungkin sifatnya yang mudah tumbuh, berdaun rindang dan memiliki banyak varietas dengan buah yang beraneka rasa inilah yang menyebabkan populernya tanaman mangga di Indonesia.

Dibalik itu, karena banyaknya masyarakat yang menanam mangga disertai minimnya penguasaan teknik budidaya dan pengetahuan tentang hama dan penyakit, mengakibatkan kurang optimalnya produksi mangga di Indonesia.

Beberapa jenis hama dan penyakit yang umumnya menyerang tanaman mangga adalah:

- Hama :
1. Wereng Mangga ( Idiocerus clypealis, I. Niveosparsus, I. Atkinsoni)
  • Serangan terjadi saat malai bunga stadia bud elongation (perpanjangan tunas). Nimfa dan wereng dewasa menyerang secara bersamaan dengan menghisap cairan pada bunga, sehingga kering, penyerbukan dan pembentukan buah terganggu kemudian mati. Serangan parah terjadi jika didukung cuaca panas yang lembab. Hama ini mengeluarkan cairan manis (embun madu) yang dapat mengundang tumbuh dan berkembangnya penyakit embun jelaga (sooty mold). Disamping itu, embun madu dapat menyebabkan phytotoxic pada tunas, daun dan bunga.
  • Pengendalian kimiawi dengan penyemprotan insektisida Diazinon dan pengasapan seminggu empat kali.
2. Penggerek Pucuk, Tip Borer (Clumetia transversa)
  • Ulat ini menggerek pucuk yang masih muda (flush) dan malai bunga dengan mengebor/menggerek tunas atau malai menuju ke bawah. Tunas daun atau malai bunga menjadi layu, kering akibatnya rusak dan transportasi unsur hara terhenti kemudian mati.
  • Pengendalian; cabang tunas terinfeksi dipotong lalu dibakar, pendangiran untuk mematikan pupa, penyemprotan dengan insektisida sistemik.
3. Ulat Philotroctis sp.
  • Warna sedikit coklat (beda dengan Clumetia sp. yang warnanya hijau) sering menggerek pangkal calon malai bunga. Telur Philoctroctis sp. menetas dan dewasa menyerang tangkai buah muda (pentil). Buah muda gugur karena lapisan absisi pada tangkai buah bernanah kehitaman. Aktif pada malam hari.
  • Pengendalian dengan PESTONA.
4. Penggerek Buah, Seed Borer (Noorda albizonalis)
  • Hama ini menggerek buah pada bagian ujung atau tengah dan umumnya meninggalkan bekas kotoran dan sering menyebabkan buah pecah. Ulat ini langsung menggerek biji buah akibatnya buah busuk dan jatuh. Berbeda dengan Black Borer yang menggerek buah pada bagian pangkal buah. Lubang gerekan dapat sebagai sumber penyakit.
  • Pengendalian : pembungkusan buah, kumpulkan buah terserang lalu dibakar, semprot dengan PESTONA.
5. Bubuk buah mangga
  • Menyerang buah sampai tunas muda. Kulit buah kelihatan normal, bila dibelah terlihat bagian dalamnya dimakan hama ini.
  • Pengendalian: memusnahkan buah mangga yang jatuh akibat hama ini, menggunakan pupuk kandang halus, mencangkul tanah di sekitar batang pohon dan menyemprotkan insektisida ke tanah yang telah dicangkul.
6. Bisul daun (Procontarinia matteiana.)
  • Gejala: daun menjadi berbisul dan daun menjadi berwarna coklat, hijau dan kemerahan.
  • Pengendalian: penyemprotan buah dan daun dengan Ripcord, Cymbuth atau Phosdrin tiga kali dalam seminggu, membakar daun yang terserang, menggemburkan tanah untuk mengeluarkan kepompong dan memperbaiki aerasi.
7. Lalat buah ( Bractocera dorsalis )
  • Buah yang terserang mula-mula tampak titik hitam, di sekitar titik menjadi kuning, buah busuk serta terjadi perkembangan larva. Bersifat agravator yaitu memungkinkan serangan hama sekunder (Drosophilla sp.), jamur dan bakteri.
  • Gejala: buah busuk, jatuh dan menurunkan produktivitas.
  • Pengendalian: dengan memusnahkan buah yang rusak, pembungkusan buah , pemasangan perangkap lalat buah dengan memberi umpan berupa larutan sabun atau metil eugenol di dalam wadah dan insektisida.
8. Kepik mangga (Cryptorrhynoccus gravis)
  • Menyerang buah dan masuk ke dalamnya.
  • Pengendalian: dengan semut merah yang menyebabkan kepik tidak bertelur.
9. Tungau (Paratetranychus yothersi, Hemitarsonemus latus)
  • Tungau pertama menyerang daun mangga yang masih muda sedangkan yang kedua menyerang permukaan daun mangga bagian bawah. Keduanya menyerang rangkaian bunga.
  • Pengendalian dengan menyemprotkan tepung belerang, insektisida Diazinon atau Basudin.
10. Thrips ( Scirtothrips dorsalis )
  • Hama ini sering disebut thrips bergaris merah karena pada segment perut yang pertama terdapat suatu garis merah. Hama ini selain menyerang daun muda juga bunga dengan menusuk dan menghisap cairan dari epidermis daun dan buah. Tempat tusukan bisa menjadi sumber penyakit. Daun kelihatan seperti terbakar, warna coklat dan menggelinting. Apabila bunga diketok-ketok dengan tangan dan dibawahnya ditaruh alas dengan kertas putih akan terlihat banyak thrips yang jatuh.
  • Pengendalian : tunas muda terserang dipotong lalu dibakar, tangkap dengan perangkap warna kuning, pemangkasan teratur, penyemprotan dengan BVR atau PESTONA
11. Codot
  • Memakan buah mangga di malam hari.
  • Pengendalian: dengan membiarkan semut kerangkeng hidup di sela daun mangga, memasang kitiran angin berpeluit dan melindungi pohon dengan jaring.

- Penyakit :
1. Penyakit Gleosporium
  • Penyebab: jamur Gloeosporium mangifera. Jamur ini menyebabkan bunga menjadi layu, buah busuk, daun berbintik-bintik hitam dan menggulung.
  • Pengendalian: fungisida Bubur Bordeaux.
2. Penyakit diplodia
  • Penyebab: jamur Diplodia sp. Tumbuh di luka tanaman muda hasil okulasi.
  • Pengendalian: dengan bubur bordeaux. Luka diolesi/ditutup parafin-carbolineum.
3. Cendawan jelaga
  • Penyebab: jamur Meliola mangifera atau jamur Capmodium mangiferum. Daun mangga yang diserang berwarna hitam seperti beledu. Warna hitam disebabkan oleh jamur yang hidup di cairan manis.
  • Pengendalian: dengan memberantas serangga yang menghasilkan cairan manis dengan insektisida atau tepung belerang.
4. Bercak karat merah
  • Penyebab: ganggang Cephaleuros sp. Menyerang daun, ranting, bunga dan tunas sehingga terbentuk bercak yang berwarna merah. Penyakit ini sangat mempengaruhi proses pembuahan.
  • Pengendalian: pemangkasan dahan, cabang, ranting, menyemprotkan fungisida bubuk bordeaux atau sulfat tembaga.
5. Kudis buah
  • Penyebab: Elsinoe mangiferae
  • Menyerang tangkai bunga, bunga, ranting dan daun.
  • Gejala: adanya bercak kuning yang akan berubah menjadi abu-abu. Pembuahan tidak terjadi, bunga berjatuhan.
  • Pengendalian: fungisida Dithane M-45, Manzate atau Pigone tiga kali seminggu dan memangkas tangkai bunga yang terserang.
6. Penyakit Antraknose (Colletotrichum sp.)
  • Terjadi bintik-bintik hitam pada flush, daun, malai dan buah. Serangan menghebat jika terlalu lembab, banyak awan, hujan waktu masa berbunga dan waktu malam hari timbul embun yang banyak. Apabila bunganya terserang maka seluruh panenan akan gagal karena bunga menjadi rontok.
  • Pengendalian : pemangkasan, penanaman jangan terlalu rapat, bagian tanaman terserang dikumpulkan dan dibakar.
7. Penyakit Blendok
  • Penyebab: jamur Diplodia recifensis yang hidup di dalam lubang yang dibuat oleh kumbang Xyleborus affinis). Lubang mengeluarkan blendok (getah) yang akan berubah warna menjadi coklat atau hitam.
  • Pengendalian: memotong bagian yang sakit, lubang ditutupi dengan kapas yang telah dicelupkan ke dalam insektisida dan menyemprot pohon dengan bubur bordeaux.

Sumber:
  • http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-mangga.html
  • Sentra IPTEK & Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS
  • http://www.tamanmundu.com/budidaya-tanaman/28-budidaya/9-budidaya-mangga.html

Jumat, 28 Agustus 2009

Klinik Tanaman

Buku Tamu